Untukmu di Halaman Terakhir Bab Itu

Masih ingat saat itu, kau bercerita dan aku yang mengoreskan penanya? Mungkin saat itu, aku tidak cukup percaya bahwa kau tidak akan pernah merasa kecewa dengan cerita yang kita tulis.

Hei kamu, apa kabar di sana?

Malam ini terlalu sunyi. Teh yang ku minum pun terasa tidak seperti biasanya. Orang bilang suasana seperti ini sering membuat pikiran agak kacau. Ah. Benar saja. Entah mengapa, malam ini aku teringat pada seseorang.

Ya, kamu itu.

Apa kau masih ingat sudah berapa lama? 853 halaman sejak bab terakhir kita. Well, lihat, aku masih menghitungnya. Semenjak bab terakhir itu, tentu saja cerita kita tidak lagi sama. Di lembar terakhir bab itu, kau, -kita, memilih untuk memegang pena masing-masing.

Kau tahu? beberapa puluh halaman setelah bab itu aku masih mengira-ngira, bagaimana ceritamu berikutnya? Pula terkadang, pada halaman tertentu, bertanya-tanya apa opinimu jika seandainya kau membaca ceritaku semenjak bab terakhir itu. Entahlah karena memang peduli atau sekadar ingin tahu. Lucu memang. Tapi begitulah hidup bukan?

Di akhir hari, pada akhirnya akan ada satu dua hal yang ketika diingat membuat kita malu dan tertawa.

Apa kau dengar apa yang Sang Editor katakan? Bahwa selalu ada alasan atas apa yang tertulis pada setiap halaman. Ya. Termasuk halaman terakhir bab itu. Sambil menghitung lembar yang berlalu, lama sempat aku bertanya-tanya, mencari tahu apa alasannya. Dulu kupikir hanya dua; mungkin kau tidak cukup percaya kepadaku, atau mungkin aku yang terlalu percaya kepadamu. Ratusan halaman berikutnya baru aku paham, ternyata saat itu malah aku yang tidak cukup percaya padamu. Masih ingat saat itu, kau bercerita dan aku yang mengoreskan penanya? Mungkin dulu aku terlalu takut, takut kau kecewa jika hasil goresan penaku tidak mampu mencerminkan ceritamu dengan baik.

Mungkin saat itu, aku tidak cukup percaya bahwa kau tidak akan pernah merasa kecewa dengan cerita yang kita tulis.

Tapi, sejak akhir bab itu ceritaku jauh lebih baik. Satu dua lembar mungkin mengecewakan dan basah karena hujan, namun lembaran yang menyenangkan dan tertulis dengan rapi lebih banyak lagi. Aku yakin ceritamu juga begitu. Masih ingat, janji kita di halaman terakhir bab itu? Janji bahwa nantinya cerita kita harus lebih baik. Janji bahwa jika nantinya kita membaca cerita kita satu sama lain, kita tahu bahwa masing-masing kita baik-baik saja. Tentunya, dengan pena dan cerita kita masing-masing.

Mungkin benar apa yang dikatakan Sang Editor. Bahwa suatu cerita tidak dapat disimpulkan hanya dari apa yang tertulis pada beberapa lembar atau beberapa bab saja. Bahwa makna suatu cerita hanya bisa dipahami dengan membaca keseluruhan buku dengan seutuhnya. Dan cerita yang kita tulis tentunya masih jauh dari kata usai bukankah? Karena masih banyak lembaran-lembaran kosong menunggu untuk ditulis di halaman berikutnya.

Aku rasa, mulai malam ini aku akan berhenti menghitung banyaknya lembaran semenjak halaman terakhir bab itu. Bukan untuk menyampaikan selamat tinggal, tapi sekedar berpisah dari sebuah era. Agaknya, nama kita berdua mungkin tidak ada pada akhir masing-masing cerita kita, tapi setidaknya mungkin akan tetap ada pada daftar pustaka.

Selama pena kita masih bertinta, masing-masing kita akan masih selalu bercerita.

(Jakarta, 18 Agustus 2018)

Advertisements

Sedikit tentang Hujan

rain-splash-clouds-wallpaper-1680x1050
image by hdwallpapers.org

Bukankah ketika kecil kita pernah menari di bawahnya? Di tengah baju kuyup dan teriakan orang tua? Ingatlah, hari itu kau tersenyum meski kau tahu mungkin akan terserang demam sesudahnya.

Continue reading “Sedikit tentang Hujan”