Sedikit tentang Hujan

rain-splash-clouds-wallpaper-1680x1050
image by hdwallpapers.org

Bukankah ketika kecil kita pernah menari di bawahnya? Di tengah baju kuyup dan teriakan orang tua? Ingatlah, hari itu kau tersenyum meski kau tahu mungkin akan terserang demam sesudahnya.

Ah. Hujan. Langit Jakarta sedang galau-galaunya beberapa bulan terakhir. Sang awan sepertinya memang sedang senang menangis di atas kota yang sesak dan berdebu ini. Sudah beberapa hari Jakarta diguyur hujan berdurasi hampir berjam-jam, cukup untuk membuat jalan-jalan setengah kota ini berparodi menjadi selokan untuk beberapa hari kedepan.

Pagi itu entah untuk keberapa kalinya saya berangkat ke kantor dengan menggulung celana sedengkul sambil menenteng payung di tangan kanan dan sandal di tangan kiri. Berjalan dengan gaya slow motion yang dipaksakan karena harus melewati kubangan air yang terbentang dari rumah sampai tempat ngangkot. Repot memang. Kita semua setuju di waktu-waktu seperti ini berpergian membutuhkan usaha dan pengorbanan lebih. Kita semua tak mengelak bahwa di waktu seperti ini mengutuki “kolam renang dadakan” di jalan ibu kota adalah hal yang biasa. Tapi..

Hari itu lantai metromini 07 jurusan Semper-Senen yang saya tumpangi penuh air. Di atasnya, wajah-wajah terburu-buru dengan celana tergulung dan payung ditangan mendominasi kursi penumpang. Dari balik kaca berembun 07 terlihat lanskap Jakarta yang berbeda, mendung gelap dengan rintik hujan gerimis, alih-alih abu-abu berasap dan berdebu. Membuat pemandangan Jakarta agak asing dari biasanya, dan bisa dibilang agak romantis. Actually, Paris is the most beautiful in the rain. Sebaris dialog dari Midnight in Paris-nya Woody Allen terlintas dibenak saya.

Hujan. Hujan selalu memberikan rasa teduh dan nyaman. Itulah alasan mengapa manusia menyukai hujan. Alasan yang sama mengapa dari sekian banyak musik terapi pengantar tidur, suara hujan adalah salah satunya. Ketika hujan, dalam beberapa menit suara dunia seakan diredam. Segala omong kosong bising sehari-hari digantikan oleh suara alami luar biasa indah yang di komposeri oleh rintik air. Segala suara yang ada seakan dikecilkan oleh sebuah remote kasat mata. Redup kemudian tenang.

Aroma ketika terjadinya hujan seakan sudah menjadi trademark tersendiri. Petrichor, mereka bilang. The scent of rain. Aroma yang ditimbulkan oleh rintik air ketika bertemu dengan tanah yang kering. Bagi saya jelas, inilah aroma paling indah yang pernah tercium, lebih indah dari parfum manapun. Kombinasinya keduanya seakan menjadi elixir bagi jiwa dan pikiran yang mulai jenuh dengan hiruk pikuk kota.

Dua hal itu sudah cukup membuat saya –dan mungkin beberapa orang lain– menjadi seorang penikmat hujan. Penikmat hujan. Orang-orang yang ketika hujan tetap tersenyum dari balik jendela meski agenda agak terlunta. Orang-orang yang ketika hujan menjulurkan tangan dari naungan payung hanya untuk merasakan rintiknya. Saya tak pernah bisa mengutuki hujan. Bukankah ketika kecil kita pernah menari di bawahnya? Di tengah baju kuyup dan teriakan orang tua? Ingatlah, hari itu kau tersenyum meski kau tahu mungkin akan terserang demam sesudahnya.

Kita tak seharusnya menyalahkan hujan. Bukan salah hujan jika banjir datang.

Paris, Roma, Amsterdam−dan beberapa kota lainnya−pastinya akan terlihat lebih indah disaat hujan. Jakarta.. Well, mungkin belum. Kita para penikmat hujan mungkin memang harus sedikit bersabar. Bersabar dan berdoa untuk para eksekutif kota agar punya jalan keluar. Paling tidak hingga banjir ibukota bisa diatasi. Paling tidak. Eee, sometimes we should be a bit optimistic, shouldn’t we?

Dan metromini yang saya tumpangi terus melaju. Berangkat kerja hari itu penuh dengan lamunan dan agak berfilosofi. Tentang hujan. Sekali lagi tentang hujan, bukan banjirnya. Lagi-lagi rintik air di kaca jendela mengingatkan saya pada satu  line lain dari film yang sama.

“Can you picture how drop-dead gorgeous this city is in the rain?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s